Minggu, 17 Juni 2012

KEIMANAN dan KETAQWAAN


BAB I
A. Pengertian Iman
Sesuai  dengan sabda Rasulullah saw, yang di riwayatkan dari umar sebagai jawaban pertanyaan yang diajukan oleh malaikat jibril 
“… Engkau beriman kepada Allah,  kepada malaikat-Nya,kitab-kitab-Nya,  kepada utusan-utusan-Nya, kepada hari kiamat dan kepada takdir yang baik maupun yang buruk…”(HR muslim)
Iman selalu berkaitan erat dengan amal saleh. Karena setiap perbuatan harus di landasi dengan iman di dalam dirinya, karena imanlah yang akan menentukan balasan yang akan Allah berikan. Artinya, ketika ia melakukan amal saleh, menunaikan segala kewajiban yang Allah bebankan, maka harus senantiasa didasari dengan  keyakinan akan adanya balasan terhadap setiap hal yang dilakukan. Ia harus tetap menyadari bahwa Allah lah yang telah mengaruniakan rahmat-nya sehingga ia masih di beri kesempatan untuk berbuat baik di muka bumi ini.
Jika kita simpulkan maka iman juga dapat diartikan juga dengan percaya/yakin.
B. Wujud Iman
Adapun wujud iman yaitu:
1)      Iman Kepada Allah
Mengenal kepada Allah adalah hal pertama yang harus dilakukan seorang muslim dalam beragama. Bermula dari mengenal Allah maka kita akan mengenali diri kita, sebagaimana sebagaian atsar shahabat. Dari penganalan terhadap Allah itulah, keimanan dan ketakwaan kita akan meningkat. Jalan mengenal Allah yang islami adalah dengan mengoptimalkan akal,fitrah,pendengaran,pengelihatan. Hal inilah yang akan mampu mendeteksi adanya keberadaan Allah
2)      Iman Kepada Malaikat-Malaikat Allah
Beriman kepada hal yang ghaib adalah sesuatu yang menjadi cirri-ciri orang yang bertakwa, sebagaimana firman-Nya:                                                                                                               
      …(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib…” (QS Al- Baqarah: 3)
Segala yang tidak bisa dijangkau oleh panca indera manusia disebut sebagai al-ghaib, sebaliknya yang dapat dijangkau oleh panca indera manusia adalah as-syahadah.

Malaikat adalah salah satu makhluk gaib. Secara bahasa mala-ikah adalah bentuk jamak dari malak,berasal dari mashadar al-alukah yang artinya ar-risalah (misi,pesan). Malaikat diciptakan Allah SWT dari cahaya. Malaikat adalah makhluk Allah yang senantiasa patuh terhadap Allah.
3)      Iman Kepada Kitab Allah
Kitab adalahmashadar dari kata kataba yang berarti menulis. Kitab berarti tulisan atau buku. Kitab yang dimaksudkan disini adalah kitab –kitab suci Allah yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Rasul-Nya, kitab suci Allah berisi wahyu yakni firman Allah SWT yang antara lain berisi perintah dan larangan-Nya. Kita wajib mengimani kitab tersebut sebagaimana firman-Nya”
Bukanlah menghadap wajahmu ke arahh timur dan barat itu suatu kebajikan,akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah,hari kemudian,malaikat-malaikat,kitab-kitab,nabi-nabi…” (QS.Al-Baqarah:177)

4)      Iman Kepada Rasul-Nya
Setelah beriman kepada kitabullah, kita diwajibkan beriman kepada rasul-rasul-Nya. secara bahasa nabi berasal dari kata na-ba artinya yang ditinggikan, atau kata na-ba-a yang artinya berita. Menurut Ustadz Yunahar Ilyas,Lc, nabi berarti seseorang yang ditinggikan derajatnta oleh Allah SWT dengan memberinya wahyusedangkan rasul adalah seorang yang diutus Allah untuk menyampaikan pesan atau risalah. Setiap rasul adalah seorang nabi, namun seorang nabi belum tentu seorang rasul.
5) Iman Kepada Hari Akhir
Hari akhir adalah berakhirnya kehidupan di dunia yang fana ini. Hari yang ditandai dengan hancurnya alam semesta dan berakhirnya seluruh kehidupan umat manusia. Kiamat adalah sesuatu yang harus kita imani bakal terjadi. Namun begitu tak ada seorang pun yang tau kapan terjadinya hari kiamat.
6) Iman Kepada Takdir Baik maupun Buruk                 
Yang dimaksud dengan takdir adalah qadha dan qadar. Qadha’ adalah kehendak atau ketetapan hukum,yakni kehendak dan ketetapan hukum Allah SWT terhadap segala sesuatunya. Qadar adalah ukuran atau ketentuan Allah SWT terhadap segala sesuatu
Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran,,,” (QS.Al-Qomar:49
BAB II
A. Tanda orang beriman
“kamu tidak akan memperoleh kebajikan sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infakkan tentang hal itu. Sungguh Allah maha mengetahui”(QS.Al imran:92)
Dalam ayat ini, Allah menjelaskan bahwa kadar iman seseorang dapat diukur dengan perbuatan baik yang ia lakukan. Tanda dan ukuran yang menunjukkan benarnya iman seseorang adalah kemampuannya untuk menginfakkan sesuatu yang dicintainya demi kepentingan agama dan masyrakat secara ikhlas. Ia melakukan hal itu semata-semata untuk memperoleh keridaan Allah SWT.Apabila ia sudah mampu mendermakan sebagian harta yang
paling ia banggakan itu,berarti ia telah sampai kepada suatu tingkat kebajikan yang sempurna dengan memperoleh pahala yang akan  mengantarkannya masuk ke surga.

Tanda orang beriman juga dapat dilihat dari ikhtiar, meskipun sangat banyak cobaan yang diberikan oleh Allah tetapi ia selalu percaya,bahwa Allah akan memberikan bantuan. Dan tidak mungkin Allah memberikan ujian diluar batas kemampuan manusia.
B. Pengaruh keimanan
Pengaruh keimanan terhadap kehidupan manusia sangat besar. Di bawah ini dikemukakan beberapa manfaat tentang keimanan.
1. Iman melenyapkan kepercayaan kepada kekuasaaan benda
Orang yang beriman hanya percaya kepada Allah. kalau Allah hendak memberikan pertolongan, maka tidak ada kekuatan lain yang dapat menggagalkannya. Kepercayaan ini dapat menghilangkan sifat mendewa-dewakan manusia atau benda mati lainnya.
2. Iman menanamkan semangat berani menghadap maut
Takut  menghadapi maut menyebabkan sifat pengecut, dan manusia menjadi takut mengungkapkan kebenaran karena takut menghadapi resiko.orang yang beriman yakin sepenuhnya bahwa hidup dan mati ada di tangan Allah.
Seperti firman Allah dalam surah An-nisaa’,4:78
Dimana sajakamu berada,kematian akan datang mendapatkan kamu kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh”
3.iman menanamkan sikap “self help” dalam kehidupan
Rezeki atau mata pencaharian memegang penting dalam kehidupan manusia, kadang orang tidak. Segan melepaskan prinsip, serta menjual kehormatan. Pegangan orang beriman dalam hal ini
Ialah  firman Allah:
Dan tidak ada satu binatang melatapun  pun di  bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya,….” Hud,11:6
4.iman memberikan ketentraman jiwa
5.iman melahirkan sikap ikhlas dan konsekuen
BAB III
A. Pengertian dan fungsi takwa
        Taqwa (takwa) berasal dari kata waqa, yaqi, wiqayah, yang berarti takut, menjaga, memelihara, dan melindungi. Sesuai dengan makna etimologis tersebut, maka takwa dapat diartikan sikap memelihara keimanan yang diwujudkan dalam pengalaman ajaran agama Islam secara utuh dan konsisten (istipmah). Seperti firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah, 2:177. Ayat tersebut menjelaskan tentang karakteristik orang-orang yang bertakwa, yang secara umum dapat dikelompokkan ke dalam lima kategori atau indicator ketakwaan, antara lain:
1.      Iman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab dan para nabi
2.      Mengeluarkan harta yang dikasihinya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang terputus di perjalanan, orang-orang yang meminta-minta dana, orang-orang yang tidak memiliki kemampuan untuk memenuhi kewajiban memerdekakan hamba sahaya.
3.      Mendirikan salat dan menunaikan zakat, atau dengan kata lain, memelihara ibadah formal.
4.      Menepati janji, yang dalam pengertian lain adalah memelihara ibadah formal.
5.      Sabar disaat kepayahan, kesusahan dan di waktu perang, atau dengan kata lain memiliki semangat perjuangan.
Fungsi-fungsi Taqwa:
1.      Akan menjadi manusia yang paling mulia di sisi Allah
2.      Akan menjadi bekal dunia-akhirat
3.      Akan di beri jalan keluar dari segala permasalahan dan diberi rizqi yang tidak terduga
4.      Akan menjadi pakaian bathin
5.      Akan menjadi manusia yang dapat membedakan (furqon)
BAB IV
Peran Iman dan Taqwa dalam problem modern
Peran Iman dan Taqwa dalam menjawab problem modern. Pengaruh Iman dan Taqwa sangat berpengaruh besar. Antara Iman dan Taqwa adalah kemuliaan yang telah dijelaskan dalam Al-Qur’an. Al-Qur’an menjelaskan bahwa manusia yang paling mulia di sisi Allah.SWT adalah orang-orang yang Taqwa. Iman adalah syarat sedangkan Taqwa adalah tujuan.
Mantapnya pemahaman agama, adat dan budaya dalam perilaku sehari-hari menjadi landasan dasar. Pengembangan melalui program pendidikan, pelatihan, pembinaan keluarga, institusi serta lingkungan harus sejalin dengan pemantapan Aqidah Agama pada generasi saat ini atau mendatang. Kebangkitan masa depan tidak bisa hanya dengan membanggakan kejayaan masa lalu (glory of the past) melainkan dengan mengangkat derajat umat melalui kualitas iman dan ilmu.
v  Problem manusia dalam kehidupan modern, dalam pandangan Islam:
-          Penemuan Teknologi yang menyebabkan pencemaran lingkungan
-          Hutan gundul (illegal logging)
-          Habitat hewan menjadi rusak
-          Pemanasan global akibat rumah kaca
-          Pulusi
-          Manusia yang konsumtif, materialistic, ekspoloitatif (dalam bidang ekonomi)
-          Korupsi
-          Melemahnya jati diri
Dunia sedang berubah, apalagi diera globalisasi saat ini. Komunikasi antar manusia menjadi tanpa batas dan bisa diakses oleh siapa saja, secara terbuka atau pun tersamar. Kemajuan ilmu teknologi, komunikasi, kebudayaan, ekonomi dan politik serta transportasi, telah menjadikan dunia sebagai “desa besar”.
Semakin bertambahnya zaman pasti ada perubahan!. Baik dalam moral, agama dan budaya maupun dalam segi social kehidupan di dalam masyarakat. Dan yang utama dalam segi agama, kepercayaan dan keyakinan sehingga dalam segi iman dan taqwa pun berkurang.
v  Adapun peran iman digunakan dalam era modern saat ini:
-          Iman sebagai filter informasi secara obyektif dan cerdas sesuai ajaran Islam

7
-          Iman sebagai pertahanan dan adaptasi arus budaya globlal  yang kurang dengan budaya local dan ajaran Islam
-          Iman sebagai  alat untuk memilih dan menggunakan alat teknologi untuk kepentingan diri sendiri, public, dan kedepan
-          Iman sebagai filter dan pegangan dalam bersosialisasi
-          Iman sebagai alat untuk memilih dan dan menyaring system dan implementasi perekonomian yang dijalani secara pribadi & lingkungan sesuai sejarah Islam
-          Iman sebagai filter menjalankan fungsi dan aturan politik yang digunakan
Peran Iman dan Taqwa di dalam profesi yang di geluti oleh seseorang adalah suatu profesi atau kedudukan yang dimiliki dengan di imbangi oleh Iman dan Taqwa kepada Tuhan yang Maha Esa karena jika memiliki profesi harus di imbangi dengan ke imanan.
Etos kerja dapat diartikan sebagai pandangan bagaimana melakukan kegiatan yang bertujuan mendapatkan hasil atau mencapai kesuksesan. Bagaimana umat Islam dapat berhasil dan sukses dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Bekerja di dunia, bagi umat Islam merupakan bekal di akhirat kelak. Hidup di surge merupakan tujuan dan impian kesuksesan setiap umat Islam. Jadi ummat Islam tidak cukup hanya melakukan ibadah kepada Allah dan Rasul saja, tetapi juga dituntut untuk melakukan amal perbuatan berupa Bekerja sebagaimana yang ditentukan Allah.SWT. Terkait dengan hal ini, Rasul bersabda:
“Yang dinamakan iman itu ialah apabila kau meyakini di dalam hati, menyatakan dengan lidah, dan melaksanakannya dengan perbuatan” (Al hadits).
Iman kepada Allah tidak hanya yakin didalam hati dan mengucap dalam perkataan, tetapi juga melaksanakan dalam perbuatan atau pekerjaan. Islam tidak menghendaki para pemeluknya menjadi orang yang malas dan memandang bahwa bekerja, usaha untuk mencari rejeki dan mencari kemakmuran merupakan perbuatan jelek dan mendatangkan siksa.
Islam mendidik pengikutnya agar cinta bekerja sebagaimana firman Allah:
            “Apabila telah ditunaikan sholat, maka beterbaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung” (QS Al-Jumuah:10).
            Terlihat jelas bahwa Allah menghendaki umat Islam untuk bekerja keras dalam mencari karunia /rejeki dari Allah. Dan dalam ayat ini, Allah menghendaki supaya umat Islam dalam bekerja mendapatkan untung, atau keberhasilan.
Islam memandang bahwa bekerja adalah bagian dari kewajiban dalam kehidupannya. Dengan bekerja manusia dapat mengambil manfaat dari kehidupan dan manfaat dari masyarakat. Islam benci pengangguran, kemalasan dan kebodohhan, karena hal tersebut merupakan penyakit yang lambat laun dapat mematikan kemampuan fisik dan berfikir manusia. Rasullah bersabda:
            “Janganlah sekali-kali diantara kalian ada yang duduk-duduk engan mencari karunia Allah, sambil berdoa, “Ya Allah, limpahkanlah karunia kepadaku”, padahal ia telah mengetahui bahwa langit tidak pernah menurunkan hujan emas dan perak” (HR Bukhari Muslim).
            Hikmah dari sabda Rasul tersebut, bahwa untuk mencapai atau mendapatkan rejeki dari Allah tidak cukup hanya duduk-duduk dan berdoa. Dalam mencapai kesuksesan, Islam bukan hanya membenci orang yang malasdan menganggur, tetapi menghendaki umat Islam untuk bekerja, bahkan bekerj    dengan keras. Islam tidak menghendaki umatnya menjadi peminta-minta terhadap orang lain. Umat Islam mampu mandiri, mencukupi kebutuhan dengan usaha keras.
KESIMPULAN
Kita dapat mengambil kesimpulan bahwa iman adalah hal terpenting yang harus kita miliki di tengah jaman yang semakin maju ini, dimana cobaan dan godaan akan terus datang. Sehingga mempelajari tentang keimanan dan ketakwaan ini sangat di butuhkan.
Keimanan dan ketakwaan juga wajib untuk dilakukan agar kita dapat memfilter diri sendiri agar tidak terjerumus dalam hal-hal yang negatif, Selain itu ibadah kita juga akan meningkat, karena kita akan terus mengingat Allah SWT.
Dari sini kita juga dapat mengukur sampai dimana keimanan dan ketakwaan yang kita miliki, kita juga dapat melihat apakah kita sudah menerapkan keimanan kita dalam kehidupan sehari-hari.
Keimanan dan ketakwaan akan terwujud secara simbang jika kita percaya bahwa apa yang kita terima selama ini dari Allah semata, maka kita patut mensyukurinya.  Dan apa yang kita lakukan akan mendapat balasan dari Allah SWT.
Selalu berbuat baik dan membantu sesama merupakan tolok ukur bagi kita sampai dimana ketakwaan dan keimanan yang kita miliki. Jika kita sudah rajin menyedekahkan sebagian harta kita yang kita cintai maka insyaAllah keimanan kita sudah termasuk dalam golongan yang baik.
Begitu banyak manfaat yang dapat kita ambil dalam makalah ini, semoga makalah ini dapat menjadi jalan untuk renungan kita dan sebagai jalan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan.
DAFTAR PUSTAKA
Azyumardi Azra, Prof, Dr, dkk. Pendidikan Agama Islam, 2002.
Hamilton Sir A.R.Gibb, Islam dalam lintasan sejarah, Bhratara karya aksara, Jakarta-New York, 1949
Srijonti, Purwanto S.K & Pramono Waahyudi. Etika membangun masyarakat islam modern, Graha Ilmu, 2006

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar